Artikel Guru (9)
Data Siswa (1)
ekstra kurikuler (0)
karya guru (2)
Karya Siswa (11)
Kesiswaan (5)
Pendidikan (1)
Pengumuman (28)
PPDB (8)
Share (1)

















• 13 Februari 2014
AGENDA PPDB 2014/2015


Beranda » Artikel Guru » Membangun Kecerdasan Finansial Anak

Selasa, 05 Februari 2013 - 08:59:17 WIB
Membangun Kecerdasan Finansial Anak
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel Guru - Dibaca: 230 kali

Membangun Kecerdasan Financial Anak Sejak Dini

Oleh : Mir’atus Solikhah, S.Pd

Ketercapaian tujuan pembelajaran antara lain dapat dilihat dari tercapainya indikator pelajaran. Tetapi tidak kalah pentingnya adalah tercapaian keterampilan hidup anak, salah satunya diindikasikan dengan terbentuknya kecerdasan finansial yaitu kemampuan anak untuk mengatur keuangannya sendiri. Hal ini dapat tercapai jika ada kesinambungan dan keterpaduan pendidikan di rumah dan di sekolah. Adalah sebagai guru utama, orang tua dapat membimbing anaknya melalui berbagai cara duiantaranya ; mengajarkan anak untuk mengenal keseimbangan membeli dan menjual, memperkenalkan untung (profit) pada anak, memperkenalkan pembelian yang baik, pembelian yang jelek, penjualan yang baik dan penjualan yang jelek, bagaimana menabung yang baik dan menabung yang jelek, menanamkan anak untuk menjadi “pejuang” yang tidak takut gagal, dan mengajarkan konsep efisiensi dan tidak mubadzir. Hemat bukanlah untuk menahan konsumsi yang akan datang melainkan hemat untuk investasi. Tentunya peran guru dan orang tua sangat penting untuk menjadikan anak-anak kita manajer keuangan “cilik” yang mahir mengatur uang jajannya sendiri.

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang seimbang, terkait dengan keseimbangan fisik dan psikis, dukungan (motivasi) internal dan eksternal dan juga materi yang harus di ajarkan kepada anak (siswa). Hal ini akan sangat terkait dengan lingkungan dimana anak belajar. Sekolah sebagai tempat belajar tidak dapat memenuhi semua kebutuhan belajar anak. Untuk itu, keluarga, sebagai “pusat bimbingan belajar” anak dan sebagai sekolah pertama sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya.

Terkait dengan pembelajaran di sekolah yang bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan akademik tentunya diharapkan dapat diikuti dengan pencapaian soft-skill  sebagai bekal hidup ketika mereka dewasa. Salah satu yang mungkin terlupakan oleh para orang tua dan guru adalah bagaimana menjadikan anak (siswa) sebagai “pengusaha cilik “ yang mahir mengelola keuangan sendiri. Hal ini sangat terkait pada pembelajaran IPS untuk Sekolah Dasar. Siswa kelas 3 SD baru mendapatkan materi pengelolaan uang pada pelajaran IPS, padahal mereka sudah menjadi pelaku kegiatan ekonomi sedari mereka lahir. Apakah ini berarti pembelajaran pengelolaan uang yang diajarkan di kelas 3 SD itu suatu keterlambatan informasi untuk anak-anak kita ?

Jika kita mau merenungkan, ternyata sebagian besar dari kita, para orang tua dan mungkin juga guru seperti saya menganggap tidak begitu penting untuk mempersiapkan anak dengan membekali anak-anak (siswa) kita dengan kemampuan mengelola keuangan yang saya istilahkan dengan “Kecerdasan Financial”. Selama 3 tahun saya mengajar di SD Khadijah,  sering kali saya dapati anak-anak didik saya masih belum bisa mengatur uang jajannya sendiri. Bahkan ada beberapa anak didik saya yang entah karena dermawan atau karena tidak tahu, membagi-bagikan uangnya kepada teman-temannya sehingga teman-teman yang mendapatkan bagian, sebagian besar mengharapkan mendapatkannya lagi di lain waktu. Begitu juga teman-teman yang tidak mendapat bagian, mereka bertanya-tanya; “Kapan saya akan mendapat bagian ?” (baca: uang)

Ketika saya tanya, ternyata dia (si anak yang suka bagi-bagi uang , sebut saja Mamad) menjawab ;” Itu uang saya sendiri kok bu, bukan punya ibu saya !” Terkesan bahwa Mamad meyakinkan kalau dia tidak akan dimarahi ibunya karena uang yang dibagikan kepada teman-temannya itu adalah uang tabungannya sendiri. Apakah itu salah ?

Kasus lain adalah Fina yang seringkali kehabisan uang saku, bahkan untuk beli minum ketika ada kegiatan pramuka dia sudah tidak punya karena sudah habis dibuat jajan pada waktu jam istirahat. Dengan alasan yang sangat sederhana dia menyampaikan “Kalau aku masih lapar, masa nggak boleh jajan bu ?”

Sebagai guru IPS yang mengajarkan materi pengelolaan uang, saya merasa pendidikan  pengelolaan uang juga penting untuk diberikan pada anak-anak kita sedari kecil, bahkan ketika dia belum sekolah sekalipun. Sebagaimana banyak sekali artikel yang memuat tentang manajemen uang jajan anak. Bahwa semua manusia punya kecenderungan jajan, dari balita sampai manula. Mulai dari skala kecil sampai dengan jajan yang elegan bagi kaum borjuis. Miris juga kalau mendengar orang tua suka berkata ‘lumayan lah, buat nambah-nambah jajan anak / cucu’, ketika mereka mendapat tambahan rejeki, padahal mereka sendiri termasuk golongan yang masih membutuhkan tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Tanpa kita sadari, kadangkala anak-anak kita tidak cerdas financial karena kesalahan kita. Seperti yang disampaika oleh psikolog Rosemini Adi Prianto, orangtua bisa menjadi faktor penyebab anak suka menggampangkan nilai dan cara mendapatkan uang.

"Mama kan tinggal ngambil uang di ATM." Begitu kata Johan saat keinginannya mendapatkan mainan ninja turtle ditolak sang ibu. Buat sebagian besar anak yang kerap melihat orangtuanya mendebit tabungan lewat mesin bank otomatis ini akan menyangka uang begitu mudahnya diperoleh. Menurut psikolog Rosemini Adi Prianto, anak yang meronta-ronta minta dibelikan sesuatu tak lepas dari kebiasaan orangtua. Seringkali para orangtua tidak mengatur pola berbelanjanya. "Beri pengertian pada anak di rumah, seperti, hari ini mama mau belanja sayur, jadi hanya sayur-sayuran yang dibeli. Dan orang tua harus tetap memegang janjinya, jangan malah membeli kebutuhan lain," ujarnya. Ini untuk menanamkan pengertian dalam diri si anak. Sejak usia dini, sebenarnya anak sudah dapat dilatih cara menghargai uang. ''Anak dapat juga belajar dari mimik dan nada bicara ibunya saat bicara tentang uang,'' kata Rosemini. Saat berumur tiga tahun anak mulai tertarik mengenal uang. " Sebaiknya orang tua tetap mendampingi anak saat dia jajan, karena mereka belum bisa memilih makanan yang sehat dan yang tidak," jelas lulusan pasca sarjana Universitas Indonesia (UI) yang biasa disapa Romi ini. Terlebih lagi saat berumur 6 tahun anak mulai kritis mempelajari konsep dasar menggunakan uang. Misalnya, membedakan nilai mata uang logam dan kertas, belajar menabung, dan membeli sendiri barang yang disukainya. Romi berpendapat, dasar pendidikan yang tepat di awal usia anak ialah memberi pengertian konsep berhitung. Yang dimaksud bukan 2+2=4, tapi membandingkan dua hal yang berbeda ukuran, atau jumlah secara kasat mata. Misalnya, bola-bola yang ada di wadah A lebih banyak dari bola di wadah B atau balon warna biru lebih besar dari balon warna kuning.

 

Belajar menahan diri

 

Romi menyarankan, agar anak diajarkan menunda terutama jika ia ingin membeli sesuatu. Ajarkan menabung pada anak, agar kelak dia menghargai barang yang dibeli dari hasil tabungannya sendiri. " Jika ingin membeli barang mahal, maka usaha yang dilakukan juga lebih besar. tanamkan hal itu pada anak, agar dia mengerti nilai dari uang," paparnya. Jika si kecil menabung untuk membeli sesuatu, mainan misalnya, bantu mereka menghitung jumlah uang yang sesuai dengan harga mainan dari tabungannya. Sebelum membeli, tanyakan padanya seberapa besar keinginannya memiliki mainan tersebut. Romi mengatakan, sebaiknya orang tua menanyakan alasan anak ingin membeli sesuatu. Misalnya mainan, mengapa dia membeli puzzle lagi padahal dia sudah punya. Biasanya ini disebabkan karena rasa bosan, jadi anak membeli mainan yang sama. Untuk itu, orangtua juga harus kreatif memanfaatkan mainan lamanya. "Kalo biasanya puzzle disusun, coba ajak dia mengumpulkan warna merah dari potonganpotongan puzzle itu," tambahnya.

 

Membuat anggaran sederhana

 

Setelah mengajarkan cara menabung di celengan dan membeli barang favoritnya, kini saatnya si kecil belajar tentang anggaran belanja ekonomis secara sederhana. Salah satu caranya, dengan membandingkan satu produk dengan produk lain. Ajak si anak memperhatikan harga yang tertera, ukuran dan kualitas pada barang yang akan dibeli. Misalnya, minggu ini Anda membeli tisu merek terkenal dengan harga mahal kemudian di minggu berikutnya beli tisu dengan harga yang lebih murah. Diskusikan pada si kecil, bagaimana perbedaan kedua tisu lalu putuskan bersama, apakah barang bermerek terkenal pantas mendapatkan harga yang lebih mahal. Pelajaran ini dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari si kecil.

 

Tawarkan cara mendapatkan uang tambahan

 

Si kecil bisa memperolehnya jika bersedia membantu pekerjaan Anda seperti membersihkan meja atau membereskan tempat tidur. Anak akan belajar bahwa jika ingin mendapatkan uang, mereka harus bekerja terlebih dahulu. Tapi hal ini tak harus diterapkan setiap anak membantu orangtuanya, berilah variasi selain hadiah, misalnya dengan pujian, anak mama pintar atau Pa tadi anak kita bantuin mama lho, "Ini saja sudah membuatnya senang," kata Romi.

Jika anak sudah lebih pintar, beri mereka kesempatan untuk menabung di bank setiap bulan. Sesuai perkembangan mereka, jelaskan sesederhana mungkin mengenai cara kerja bank dan persentase bunga yang didapat setiap bulan. Mereka akan belajar menghitung tabungannya dan membuat prioritas barang yang ingin dibeli. Tapi jangan lupa untuk mengajarkan si kecil menyumbang sebagian kecil uangnya dana sosial dan sedekah. Hal ini mendidik mereka agar senantiasa membantu orang lain.

Hal paling penting, tandas Romi, orangtua harus jadi pelopor dan contoh nyata bagi anak menghargai uang. Seperti tak mudah berbelanja barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan dan membiasakan dirimembuat anggaran belanja rutin. Selain itu, tambah Romi, orangtua juga tak bisa memaksakan anak tentang nilai uang secara detail pada usia yang masih dini. ''Yang penting Anda tegas saat menolak permintaannya membeli sesuatu. Jangan memaksa mereka mengerti sesuatu sebelum waktunya, orangtua harus belajar bagaimana perkembangan anak di usia tertentu dan cara mengolahnya," katanya.

 

Tips Mengenalkan Uang

 

Kerjasama antara ibu dan anak merupakan pelajaran penting yang harus dilakukan dalam aktivitas sehari-hari. Ketika anak meninggalkan masa balitanya, ajak mereka ke bank atau ATM, gunakan kesempatan itu untuk berdiskusi mengenai kegunaan uang serta bagaimana Anda menggunakannya. Pelajaran tersebut akan tertanam dalam dirinya sampai mereka beranjak dewasa. Mulailah mengajari anak menghargai uang dengan bijaksana. Hal ini akan membantu mereka menjadi orang yang bertanggung jawab dan mandiri di kemudian hari. Jika kesulitan menemukan cara yang tepat untuk mengajarkan nilai uang pada si buah hati, Anda dapat mencoba beberapa tips berikut ini :

 

1. Beri penjelasan

Jelaskan cara kerja uang pada si kecil untuk meluruskan anggapannya yang salah. Anda dapat mengatakan, bank adalah celengan raksasa, tempat dimana ibu menyimpan uang atau mengambil uang jika diperlukan saja. Jangan lupa tekankan, agar mempertimbangkan dulu sebelum membeli sesuatu karena jumlah uang di tabungan akan berkurang.

2. Buat simulasi

Tak ada salahnya Anda ikut bermain supermarket 'khayalan' si kecil. Tempelkan harga yang Anda buat sendiri pada barang-barang yang biasa mereka pakai, seperti pensil, bola karet atau krayon. Harga Rp1000 untuk pensil, Rp2500 untuk bola karet dan Rp5000 untuk krayon. Berikan mereka lima lembar uang seribu, beritahu bahwa jumlah uang cukup untuk membeli krayon saja atau pensil dan bola karet, tapi tidak semuanya. Lalu biarkan mereka memilih. Anak akan belajar membeli barang dengan jumlah uang yang tepat.

3. Melatih mengelola uang

Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman si anak, coba berikan uang jajan setiap minggu pada mereka. Anggap saja ini merupakan langkah awal baginya untuk mempraktikkan cara menabung, mengatur, dan membelanjakan uang dengan bijaksana. Berikan saran pada anak agar tidak menghabiskan uang yang Anda berikan, tapi untuk ditabung. Terapkan peraturan mengenai barang-barang yang tidak boleh dibelinya seperti permen atau mainan. Mintalah mereka membawa uangnya sendiri saat pergi berbelanja dengan Anda, jika si anak merencanakan akan membeli sesuatu.

4. Hindari kata 'tak punya uang'

Terkadang anak merengek minta dibelikan es krim, padahal mereka sudah menghabiskan uangnya. Hindari mengatakan 'ibu tidak punya uang', karena akan fatal bagi anak jika ia melihat Anda membeli barang baru. Jangan sampai anak menyindir Anda dengan 'katanya tidak punya uang'. Jadi apa yang harus Anda lakukan? Katakan pada mereka untuk menunggu jatah uang jajan berikutnya. Jika Anda tetap mengabulkannya, mereka akan beranggapan bisa dengan mudah meminta dari Anda meski uangnya sudah habis.

5. Membuat komitmen bersama

Tak ada salahnya jika sesekali Anda menjanjikan akan memenuhi permintaan anak jika ada sisa uang dari belanja bulanan. Beri tahu anak apa saja barang-barang kebutuhan yang harus dibeli dan berapa uang yang Anda bawa. Katakan bahwa jika ada sisa uang baru Anda akan belikan komik kesukaannya sesuai dengan harga dan jumlah yang telah disepakati sebelumnya.

Selain 5 hal tersebut diatas kita bisa ajarkan kepada anak-anak kita antara lain :

a.      Mengajarkan anak untuk mengenal keseimbangan membeli dan menjual.

Hal ini dapat kita terapkan dengan melibatkan anak dalam transaksi pembelian yang kita lakukan. Dalam penerapan pembelajaran di sekolah, kiranya praktek jual-beli atau disebut dengan istilah “Marketing Childrens” sangat membantu pemahaman anak dalam mempelajari dan meningkatkan kecerdasan finansialnya. Dengan melibatkan anak dalam transaksi jual-beli akan melatih anak berinteraksi dengan orang lain. Selain itu secara tidak langsung kita sudah mengajarkan penjumlahan, perkalian dan pengurangan kepada anak kita. Bahkan mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan kognitif saja melainkan sekaligus melibatkan emosi dan perasaannya. Sebagai contoh  ketika anak membeli 3 kue seharga Rp. 500,- dengan membawa uang Rp. 2.000.- maka dia akan belajar mengalikan, berapa dia harus membayar dan mengurangkan, berapa kembalian dari uang yang dia bayarkan.

Yang dapat orang tua lakukan lagi adalah mempercayai anak untuk membeli kebutuhannya sendiri dengan membuat daftar kebutuhan dengan memprioritaskan kebutuhan yang paling penting. Orang tua membantu untuk memilih kira-kira kebutuhan anak yang paling penting itu apa. Tetapi apabila anak salah membuat prioritas kebutuhannya, jangan disalahkan secara langsung. Mereka pasti punya alas an mengapa kebutuhan tersebut dianggap penting. Di sinilah peran orang tua dan guru, sebagai pembelajar di sekolah, sangat penting. Upaya membuat mereka (anak) mengerti sangat dibutuhkan pendekatan yang menyenangkan. Ketika saya memberi tugas untuk membuat daftar kebutuhannya, siswa kelas 3 sebagian besar sudah sesuai prioritas yang paling penting. Tetapi ketika saya tanya mengapa mereka menganggap kebutuhan itu paling penting, mereka menjawab ; “ Kata mama begitu ….” Padahal mereka perlu tahu mengapa kebutuhan ini penting, mengapa barang itu tidak penting. Jika tidak ada kesepahaman konsep mendidik antar orang tua dan guru di sekolah, saya kira tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara maksimal.

Selain dua hal tersebut, sebagai orang tua, kita bisa selalu menginformasikan kepada anak-anak kita atau melibatkan mereka ketika kita melakukan pembayaran rekening listrik, telepon atau PAM. Paling tidak menunjukkan bukti pembayaran atau jumlah tagihan yang harus dibayar oleh orang tuanya. Tujuannya adalah supaya dia tahu beban yang harus dibayarkan untuk rekening listrik apabila dia terlalu lama menonton TV, atau menggunakan peralatan listrik yang lain untuk kepentingan bermain saja.  

Sebagai masyarakat modern yang telah mengikuti segala macam perkembangan teknologi informasi dan tentunya teknologi perbankan yang lebih memudahkan konsumen atau nasabah dalam melakukan transaksi dapat pula menjadi salah satu wadah pembelajaran bagi anak-anak kita dalam pengelolaan uang. Sebagai contoh, mudahnya layanan keuangan via ATM (Anjungan Tunai Mandiri), Kartu Kredit, dan sejenisnya yang notabene membuat pola berfikir anak terbentuk memudahkan atau “menyepelekan” uang karena ketika dia butuh uang, mama tinggal gesek aja. Ketika dia ingin dibelikan MP4, tinggal gesek kartu kredit papa dan lain sebagainya dapat dibeli dengan mudah karena papa-mamaku punya kartu kredit. Disinilan orang tua dituntut untuk berperan ekstra hati-hati jika ingin melakukan transaksi via ATM atau Kartu Kredit dengan melibatkan anak. Perlu penjelasan serius supaya kesan ATM sebagai mesin uangnya papa-mama tidak terbentuk dalam pikiran anak. Sebaliknya, tanamkan kesederhanaan dan kesahajaan akan menyikapi kebutuhan sesuai dengan prioritasnya.

 

b. Memperkenalkan untung (profit) pada anak.

Keuntungan dapat diartikan secara sederhana sebagai selisih antara harga beli dengan harga jual, sehingga yang perlu kita sampaikan kepada anak adalah bahwa keuntungan ini adalah sumber pendapatan utama bagi orang-orang kaya. Orang yang dapat mengoptimalkan hasil keuntungan inilah yang dapat dikatakan sebagai orang kaya.  Dalam pembelajaran di sekolah perlu disampaikan dengan sedikit “penekanan” mengenai “sumber pendapatan utama” bagi orang-orang kaya. Orang kaya tidak akan membelanjakan uangnya lebih dari keuntungan yang didapatnya. Diharapkan anak termotivasi untuk bisa menjadi kaya. Implementasinya, anak ingin tahu dan berusaha bagaimana untuk bisa menjadi kaya. Tentunya pendidik (orang tua dan guru) harus memberikan pengertian bagaimana orang kaya yang baik. Dari sini kita bisa masukkan ajaran nilai-nilai agama kepada anak-anak kita. Khususnya jiwa dermawan dengan mengaplikasikan dalam bentuk bershodaqoh. Kekayaan yang diperoleh dari keuntungan tersebut lebih bermakna jika yang menikmati bukan hanya dirinya sendiri. Makna dari kekayaan yang sesungguhnya adalah kepedulian terhadap sesama yang sangat membutuhkan keuntungan kita, sehingga keuntungan kita akan berlipat menjadi amalan yang baik yang nantinya akan menjadi kekayaan kita kelak.

c.        Memperkenalkan pembelian yang baik, pembelian yang jelek, penjualan yang baik dan penjualan yang jelek.

Pembelian yang baik adalah pembelian barang-barang atau jasa yang akan mendatangkan keuntungan, dengan kata lain “barang-barang produktif”. Sebagai contoh, membeli seekor ayam dengan harga murah kemudian dikembangbiakkan / diternakkan maka akan menghasilkan pendapatan jika dijual kembali. Lain halnya apabila membeli ayam potong untuk dikonsumsi, maka tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga selain rasa nikmat dan kenyang setelah menyantapnya. Dengan kata lain, membeli ayam untuk dikonsumsi adalah pembelian yang jelek. Sebagai orang tua hendaknya kita bisa meningkatkan kemampuan pembelian anak dengan semakin sering melakukan pembelian yang baik.

Penjualan yang baik adalah penjualan ketika uang yang diperoleh dari transaksi ini kemudian digunakan untuk melakukan pembelian yang baik. Anak perlu dibelajarkan untuk tidak membelanjakan pendapatannya untuk barang-barang konsumsi. Sebaliknya, penjaualan yang jelek adalah uang hasil transaksi (pendapatan) digunakan untuk membeli barang-barang konsumsi. Dengan kata lain pendapatan digunakan untuk pembelian yang jelek.

d.      Bagaimana menabung yang baik dan menabung yang jelek.

Sebuah peribahasa yang sudah sangat kita kenal bahkan anak-anak kita pahami yaitu “hemat pangkal kaya” sepertinya tidak begitu tepat jika berhemat hanya untuk menunda konsumsi. Sebagai contoh; tabungan anak yang kita simpan nantinya untuk membeli mainan. Sebaliknya, menabung yang baik adalah apabila tabungan yang ada kelak digunakan untuk aset produktif yang bisa mendatangkan keuntungan.

e.      Menanamkan anak untuk menjadi “pejuang” yang tidak takut gagal.

Anak adalah pembelajar yang ulung dan tidak takut gagal. Orang tualah yang menyebabkan minat belajar anak menurun dan tidak berani menghadapi kegagalan. Ketika anak belajar untuk menulis, mereka akan mencoret-coret semua media yang mereka jumpai. Tetapi orang tua cenderung akan menasehati; “jangan coret-coret di situ sayang, nanti kotor semua, kan mama sudah belikan papan buat belajar “. Atau ketika anak melibat dan merobek kertas daftar belanja sang mama, maka sang mama akan segera menghardiknya. Wah…..kalau sudah seperti ini mana anak bisa bereksplorasi dengan maksimal ? justru dukungan orang tua untuk selalu memberikan kesempatan dan memotivasi anak untuk selalu mencoba hal-hal baru yang sifatnya positif untuk perkembangan pengetahuannya.

Mungkin ini yang harus kita benahi sedini mungkin, ketika anak sudah kita mengenal uang, kita sebaiknya mulai mengajarkan kebiasaan mengatur keuangan. Biarkan mereka melakukan kesalahan sekarang yang nantinya akan mereka ingat selalu daripada mereka melakukan kesalahan ketika sudah dewasa nanti.

f.        Efisiensi dan tidak mubadzir

Kebiasaan memubadzirkan makanan dan minuman masih banyak dijumpai pada siswa-siswi saya. Seringkali botol minuman yang masih setengah bahkan masih utuh ditinggal atau bahkan di buang di tempat sampah, bekal kue dan makanan yang tertinggal di loker meja atau mungkin memang ditinggalkan oleh yang punya. Padahal makanan dan minuman yang mereka tingalkan itu sangat berarti bagi kaum papa yang akan berpikir tujuh kali untuk membeli segelas teh atau susu. Buku tulis yang masih terpakai 5 sampai 10 lembar sudah ditinggalkan pemiliknya di loker meja karena materi pelajaran sudah selesai. Padahal lembaran-lembaran yang masih tersisa jika dikumpulkan bisa dijilid menjadi buku yang dapat digunakan lagi. Dari sini nilai pembelajaran shodaqoh sangat terkait dengan keberhasilan pembangunan kecrdasan financial si buah hati. Padahal, Rosulullah SAW pun, orang yang paling mulia, terbiasa menghabiskan setiap makanan yang telah menempel di jari-jarinya. Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Al-Isro’ ayat 27 :

Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaanasysyayaathiini wa kaanasysyaythanu lirobbihi kafuuro .

Yang artinya “sesungguhnya pemboros – pemboros (orang yang berbuat mubadzir) adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”

 Untuk itu konsep efisiensi dan meninggalkan mubadzir sangat penting untuk ditanamkan kepada anak-anak kita karena menjadi bekal anak untuk keberhasilan pendidikan finansialnya, dan ini adalah bagian dari ajaran Islam. Bila Jepang berhasil menerapkan ajaran Islam dengan konsep “Just In Time” dan Zero defect” nya, mengapa anak kita tidak kita didik sejak kecil ?

Hemat bukanlah untuk menahan konsumsi yang akan datang melainkan hemat untuk investasi. Tentunya peran guru dan orang tua sangat penting untuk menjadikan anak-anak kita manajer keuangan “cilik” yang mahir mengatur uang jajannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



3 Komentar :

calon presiden RI
07 Februari 2014 - 13:52:48 WIB

Gairah Membangun Negeri Tanpa Pamrih
Piala Dunia
14 Februari 2014 - 10:38:45 WIB

Indonesia yang sangat kaya dengan budaya...

Harga Yamaha YZF
17 April 2014 - 11:31:07 WIB

Situs Anda memberikan informasi yang bermanfaat
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 


Langganan RSS





/ /


April, 2014
MSSR KJS
  12345
6789101112
131415161718 19
20212223242526
27282930   





092646

Pengunjung hari ini : 28
Total pengunjung : 24865

Hits hari ini : 121
Total Hits : 92646

Pengunjung Online: 2





Apa Browser Favorit Anda?

Internet Explorer
Mozilla Firefox
Google Chrome
Opera

Lihat Hasil Poling